Powered By Blogger

Sabtu, 28 Agustus 2010

siapa mengutuk siapa

dari sepi yang merangkul pagi
kita menepi sejenak
menyulam embun basah serupa selimut tak kasat mata,
membaringkan penat perjalanan angan-angan
dihamparan hijau kata-kata.

kita tak mau beranjak dari ini
sebab disana kedamaian membumbung
serupa asap mesiu dari purba peperangan,
serupa peluru tak bermata mendekap bayi tak berdosa.

"siapa mengutuk siapa"

menatap tubuh bermakam puing-puing,
menggenggam nisan berhulu ledak,
memijak tanah basah,darah.

"siapa mengutuk siapa"

dari sepi yang merangkul pagi
setet embun resap senyap membawa kata-kata kita
tentang kedamaian kejantung bumi doa-doa.

kolaka

gadis kecil

(senja mengadu senjata
jalanan basah renta rata).

pisang goreng,
teriakan itu pecah dari karang
menuju medan perang,
tubuh mungill
semangat kecil
hidup pun dicicil.

(senja pun pulang,
perang telah tergenapkan).

pisang goreng,
masih saja bahkan lebih ini kali,
memenuhi jalan-jalan
di tiap sudut sepi sendi kehidupan,
tiada balas
semua malas
meski memelas.

(senja telah lelap,
berselimutkan mimpi perang esok).

pisang goreng.
tiada lagi, hanya angin dingin
yang menyanyikan tubuh mungil pun bakiak kosong,
"ibu, hari ini cuma laku satu"


ungke.
kolaka 2010.

kawan :kupukupu

kumpulan kupu-kupu sajak
beterbangan digumpalan kata-kata bijak,
membiru berburu, tergesa gegas:lautan masih juga berbiru.

satu janji jadilah tertepati
seperti pinta kawan pada purba hari.

sebiru kupu-kupumu,
seribu kata-kata menunggu.

ungke
kolaka, dini hari
2010.

kota tua :kolaka

malam yang kesekian:bulan murung.
ah.bintang itu hinggap di ranting kering,
ada juga dinding embun mesra mengusap kaca jendela yang retak bening.

kulukis saja wajah mempelai malam
yang tercipta dari renta tangan alam
sembari kukenangkan lagi perang kata kita,
"akhirnya kota tua itu basah juga"
kata itu selalu kau ucap hingga menjelma mata pena
yang menuntaskan lukisan ku.

malam yang kesekian:bulan murung.
kunamakan saja kota tua itu kolaka.

kolaka 16 mei 2010

bila esok :ibu

bila esok senja masih ada
akan kubasuh tiap dosa ditelapak kaki purbamu,
sebab setiap doa-doa malaikat selalu bermuara
ditiap rekahnya.

bila esok senja masih ada
akan ku lukis seribu wajahmu
ditujuh tingkap langit biru,
bertintakan puja-puja pun pena lakuan santun.

bila esok senja memelukmu
akan ku sapa dia dengan senyum yang kau ajarkan,
sebab telah digariskan dalam kalam keyakinan
bahwa "aku mencintainya maka aku memanggilnya.


kolaka 19 mei 2010

sama-sama menghitung hujan

ku duduk saja malam ini
di meja yang sarat warna janji
kemarin.

kadang detak jam di kamar pun menyatu
dalam sampul bukumu
:aku ini binatang jalang.
apakah ke jalangan itu yang menahanmu kemarin?
membiarkan beku merayu tubuh
mengajari diri menghitung hujan.

ku minta saja malam ini
hujan mengajari mu menghitung pula
agar lunas janji
kemarin.


ungke
kolaka 2010

Minggu, 22 Agustus 2010